Adab Membaca Al-Quran

Adab-Adab Membaca Al-Quran :

1. Mempunyai Wudlu , Dalam madzhab Syafii orang yang memegang AlQuran harus mempunyai Wudlu, jika tidak maka haram hukumnya. Dasarnya :

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Al Waqi’ah: 79)

Menurut Fiqih dalam kitab Mabadiul Fiqhiyah , orang yang diharamkan memegang AlQuran :

  • Orang yang tidak punya Wudlu
  • Orang yang junub belum mandi
  • Wanita haidl dan Nifas

2. Menutup aurat , aurat kita harus tertutup saat membaca Al-Quran

3. Berpakaian suci dan tempatnya pun suci

Pakaian dan tempat hendaknya bersih dan suci, tidak pantas kita membaca Al-Quran yang suci sedangkan baju dan tempat kita kotor

4. Menghadap Kiblat, hendaknya kita duduk sila menghadap kiblat saat membaca Al-Qur’an

5. Membaca dengan Tajwid

Membaca Alquran tidak boleh asal-asalan , harus dengan tajwid, panjang pendek (mad) harus benar, Nun mati dan Mim mati dibaca sesuai dengan seharusnya.

Begitu pula dengan Waqaf , kita harus mengerti macam2 waqaf sehingga tahu kapan harus berhenti kapan sebaiknya berhenti dan kapan jangan berhenti.

Hukum menyentuh Mushaf Al-Qur’an tanpa berwudlu

Di dalam madzhab syafi’i sudah jelas hukumnya, bahwa hukum menyentuh mushaf Al-Qur’an tanpa berwudlu adalah haram

karena dalilnya ayat dan haditsnya jelas

Namun belakangan ini muncul paham2 yang mengatakan tidak apa2 menyentuhnya tanpa berwudlu dan tidak haram meskipun kita tidak punya wudlu

Untuk menjawab ini saya akan kemukakan dalil-dalil kitab Madzhab Syafi’i yang menunjukkan bahwa menyentuh Mushaf Al-qur’an tanpa berwudlu adalah tidak boleh dan haram hukumnya

Dalil pertama

Menurut Kitab Al-Mabadiul Fiqhiyah karangan Ustadz Abdul Jabbar juz 3 , hal 18 :

Apa saja yang diharamkan atas orang yang berhadats kecil :

1. Shalat

2. Thawaf

3. Menyentuh Mushaf (Al-qur’an )dan membawanya

lebih jelas lagi dijelaskan Al-Mabadiul Fiqhiyah juz 4, hal 15 :

Apa yang haram dengan orang yang berhadats kecil :

1. Shalat, karena sabda Nabi Saw : Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci (berwudlu)

2. Thawaf , karena sabda Nabi saw : Sesungguhnya thawaf di Baitullah adalah shalat

3. Menyentuh Mushaf  (Al-qur’an) dan membawanya , Karena firman Allah ta’ala : Tidak boleh menyentuhnya (Al-qur’an) kecuali orang-orang yang suci, dan sabda Nabi saw : Tidak boleh menyentuh Al-qur’an kecuali orang yang suci

Baca lebih lanjut

Dimarahi Mbah Mun jadi bisa

Mbah Mun

Mbah Mun

Saat aku mondok dulu aku pernah dimarahi mbah mun
Tepatnya hari kamis
seperti biasa hari kamis adalah khatamannya Mbah Mun, KH. Muntaha Alh
Mbah Mun itu ulama istimewa di usia yang waktu itu mendekati 90 tahun Beliau masih mengkhatamkan Al-Qur’an seminggu sekali
Aku kadang lihat beliau duduk di kursinya di dalem sambil baca Al-Qur’an
Begitu dari dulu beliau mengkhatamkan AlQur’an seminggu sekali tiap hari kamis
Para santri wajib berkumpul  di masjid ba’da shalat ashar dengan diawali bunyi kentongan yang khas,
sebetulnya kurang pas kalau disebut kentongan karena bentuknya sebuah kayu besar di lantai memanjang di atasnya cekung
sehingga kalau dipukul menimbulkan suara nyaring yang membahana di seluruh sudut pondok al-asy’ariyah, bunyinya lebih keras dari kentongan tung..tung…tung..
kalau sudah ada aba2 tersebut santri kumpul di masjid menunggu Mbah Mun

Mbah Mun datang dengan jubahnya, jubah beliau itu ada tambalannya di belakang mungkin karena bolong
kata salah seorang ustadz waktu ngaji itu karena kezuhudan beliau yang tidak mementingkan dunia
bisa saja beliau beli yang baru yang lebih bagus, tapi beliau lebih senang hanya dengan menambalnya dengan kain segi empat
jubah beliau warnanya krem tua dan sudah terkesan jubah lama

santri biasanya ada bisik2 “sst…sst….” menandakan Mbah Mun sedang berjalan segera datang
santri pun pada diam, yang tadinya tadarus sendiri2 jadi berhenti saat Mbah Mun rawuh atau datang

Baca lebih lanjut

Sampaikah hadiah pahala pada si mayit ?

Kira2 sebulan lalu salah satu teman kerjaku bertanya tentang sampai tidaknya hadiah pahala
ayahnya meninggal dan mengadakan tahlilan namun ternyata ada orang yang datang di rumahnya mengatakan
bahwa tahlilan itu tidak perlu hukumnya bid’ah dan pahalanya tidak sampai pada si mayit
orang tersebut adalah ketua DKM di masjid dekat rumahnya

pertanyaannya adalah benarkah bahwa hadiah pahala tidak sampai?

Agar lebih jelasnya akan aku kutipkan penjelasan dari Buya KH. Siradjuddin Abbas mengenai Hadiah pahala di dalam bukunya
40 Masalah Agama jilid 1 hal 195:

Hakikat Hadiah Pahala

Apakah hakikat hadiah pahala itu?
Setiap orang yang muslim yang berakal diberi pahala oleh Tuhan kalau ia mengerjakan sesuatu amal ‘ibadat. Seseorang yang bersedakah atau berderma kepada fakir miskin mendapat pahala atas amalannya itu, seseorang yang memberikan harta waqaf mendapat pahala atas amalannya, seorang yang berpuasa mendapat pahala atas puasanya itu dan begitulah seterusnya. Tentang hal ini umat islam sedunia sepakat mempercayainya. Karena banyak sekali ayat-ayat Qur’an suci dan hadits-hadits Nabi yang menerangkan hal itu.
Diantaranya firman Tuhan :
“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan setimbang zarrah(yang kecil) ciscaya ia akan melihat (mendapat) pahalanya”(Az Zalzalah ayat 7).
Ayat ini menyatakan bahwa setiap orang yang mengerjakan kebaikan, walaupun kebaikan itu kecil sebesar debu atau sebesar zarrah niscaya akan diberi Tuhan upah atau pahalanya.

Nah, pahala amala kebaikan yang telah didapat oleh yang mengerjakan dan sudah dalam berada dalam simpanannya, bolehkah dihadiahkannya kepada orang lain, umpamanya kepada ibu bapaknya, kepada karibnya, kepada saudaranya, baik yang telah wafat atau yang masih hidup, adalah bermanfaat kepadanya di akhirat.

Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah beri’tiqad (mempercayai) bahwa hal itu boleh  dilakukan, dan orang yang diberi hadiah pahala itu mendapat pahala di akhirat.

Baca lebih lanjut

Menikmati keindahan Wonosobo part II (Ke Ndero)

Tulisan ini merupakan terusan dari yang pertama : Menikmati keindahan Wonosobo part I (Di kalibeber)

Sudah setahun lebih perjalananku ke wonosobo tahun lalu,
suatu perjalanan yang menyenangkan yang berkesan bagiku maupun istriku

Di Orda

pptq-al-asyariyah

Masjid di Ponpes Al-Asy'ariyyah

Di Orda aku segera berkenalan dengan orang di sana, baik santri, wali santri maupun tuan rumah yang sangat ramah
suasana orda teduh, nyaman menurutku
dengan luas rumah yang boleh dibilang cukup
ada wali santri yang sedang menengok anaknya
ada santri yang sedang sibuk di dapur, ada alumni yang ikut bantuin memotong kertas untuk dekorasi
aku jadi berkenalan dengan mereka
menyenangkan suasananya

setelah pikiran ini sebelumnya penat, penuh dengan coding dan database,
perjalananku ke kalibeber ini sungguh fresh
udaranya sejuk, dingin dan segar
orang-orangnya ramah, baik, santun dan menyenangkan
itulah aku kenapa jatuh cinta kepada wonosobo wabil khusus kalibeber tercinta

sudah jam 11, ramah tamah pada tamu sepertinya cukup aku segera persiapan shalat jumat
aku segera ke belakang ke kamar mandi
terdengar teriakan anakku di kamar mandi yang sedang dimandikan istriku
namun teriakan2 nya terdengar senang , ah pasti dingin airnya
istriku pun membuka pintu,
“ini anam kesenengen mandi , padahal airnya dingin”
“haha” aku ikut tertawa melihat anakku tertawa seneng mandi dengan air dingin , suatu hal yang mustahil ada di Jakarta
aku pun mandi
“brrr..” dinginnya ..
ini nih air kalibeber yang sudah lama aku tidak merasakannya , enak segar
selain air di bak mandi ada juga pipa yang mengalirkan air terus menerus
di kalibeber yang daerah pegunungan memang bukan hal yang aneh ketika air mengalir terus menerus
mungkin istriku yang baru pertama kali
dingin memang namun segar, suatu kesegaran yang tidak aku temukan di jakarta
dengan mengenakan sarung dan baju koko ala santri aku pun berangkat shalat jumat….

Baca lebih lanjut