Dimarahi Mbah Mun jadi bisa

Mbah Mun
Mbah Mun

Saat aku mondok dulu aku pernah dimarahi mbah mun
Tepatnya hari kamis
seperti biasa hari kamis adalah khatamannya Mbah Mun, KH. Muntaha Alh
Mbah Mun itu ulama istimewa di usia yang waktu itu mendekati 90 tahun Beliau masih mengkhatamkan Al-Qur’an seminggu sekali
Aku kadang lihat beliau duduk di kursinya di dalem sambil baca Al-Qur’an
Begitu dari dulu beliau mengkhatamkan AlQur’an seminggu sekali tiap hari kamis
Para santri wajib berkumpul  di masjid ba’da shalat ashar dengan diawali bunyi kentongan yang khas,
sebetulnya kurang pas kalau disebut kentongan karena bentuknya sebuah kayu besar di lantai memanjang di atasnya cekung
sehingga kalau dipukul menimbulkan suara nyaring yang membahana di seluruh sudut pondok al-asy’ariyah, bunyinya lebih keras dari kentongan tung..tung…tung..
kalau sudah ada aba2 tersebut santri kumpul di masjid menunggu Mbah Mun

Mbah Mun datang dengan jubahnya, jubah beliau itu ada tambalannya di belakang mungkin karena bolong
kata salah seorang ustadz waktu ngaji itu karena kezuhudan beliau yang tidak mementingkan dunia
bisa saja beliau beli yang baru yang lebih bagus, tapi beliau lebih senang hanya dengan menambalnya dengan kain segi empat
jubah beliau warnanya krem tua dan sudah terkesan jubah lama

santri biasanya ada bisik2 “sst…sst….” menandakan Mbah Mun sedang berjalan segera datang
santri pun pada diam, yang tadinya tadarus sendiri2 jadi berhenti saat Mbah Mun rawuh atau datang

Saat datang Beliau membaca Surat Adl-dluha sampai An-nas layaknya orang khataman biasa

biasanya setelah itu beliau menghadap ke kiblat dan sujud syukur diawali takbir

Mbah Mun
Mbah Mun

Di suatu hari kamis Di tengah2 khataman beliau ingin ada santri2 yang maju ke depan dan membacakan suatu surat kemudian memaknainya
aku kebetulan di depan dapat giliran
grogi aku di depan selain malu juga karena tidak yakin bisa
aku kebagian Al-Kafirun…
“Qul Ya ayyuhal kafirun”
“Hai iling2 wong kafir…..” sampai sini aku bisa
tiba2 di tengah jalan aku ada yang tidak tahu artinya jadinya agak setengah berhenti “au au”
sementara santri yang lain yang maju sudah kembali duduk hanya aku yang berdiri di depan sambil belepotan memaknai
akhirnya karena tidak bisa Mbah Mun membetulkan dengan suara keras setengah membentak aku pun mengikutinya,
kalimat selanjutnya aku pun tidak tahu mbah mun kembali membetulkan dengan suara keras

malu…takut bercampur jadi satu
malu di depan para santri yang lain aku tidak bisa
takut…karena Mbah Mun nya marah aku tidak bisa
memang sih salahku yang tidak tahu dan jarang deres/muthola’ah..aku saat itu kelas 2 smp

Setelah selesai aku kembali duduk dengan masih deg2 an dan malu…
setelah peristiwa itu aku jadi rajin deres atau muthola’ah

Dengan izin Allah setelah itu aku jadi bisa, malah selanjutnya aku maju sendiri tanpa disuruh dan memaknai dengan lancar
karena setelah itu acara santri maju di depan saat khataman hari kamis menjadi rutin, para santri berebut maju ke depan

KH.Muntaha Alh
KH.Muntaha Alh

Aku berpikir mungkin ini karena barakahnya Mbah Mun,
dulu pernah aku denger rumor kalau santri yang dimarahi Mbah Mun pas ngaji karena tidak bisa besoknya jadi pinter
saat aku inget rumor itu mungkin ada benarnya juga
selain karena santrinya setelah itu jadi rajin
juga mungkin karena dapat barakahnya Mbah Mun

saat aku makan di dalem
dan beliau pas lewat mau ke dapur buat dahar(makan : jawa sopan) beliau sering mengetes bahasa arab pada santriwan yang kebetulan sedang makan di dalem
misal apa bahasa arabnya piring nanti aku coba jawab “shohnun”, nanti ngetes lagi aku coba jawab lagi
pernah aku tanya mbah mun karena ada satu kata yang bener2 aku tidak tahu, beliau pun mau menjawab

saat ramadlan
Di sore hari di teras masjid beliau selalu ada sima’an, beliau atau pak as’ad abdi dalemnya yang membaca hafalan
sambil menunggu adzan maghrib mulai kira2 jam 5
disimak oleh para masyarakat kalibeber yang hadir dan para santri yang berkenan menyimak
aku kadang kalau ikut nyimak sampai aku sendiri yang ketinggalan
cepet banget.., di usia yang sepuh.. dulu aku mondok itu beliau usia 88 tahun
di usia sepuh beliau hafalannya cepat bahkan aku sendiri yang nyimak malah ketinggalan sangking cepetnya
luar biasa
saat adzan maghrib biasanya buka bersama dengan nasi megono pakai tampah, satu tampah beberapa orang
mmh…terasa nikmat dan berkah…

Konon katanya Mbah Mun bisa hafal luar biasa di luar kepala karena ayahnya dulu sungguh2 menghafalkan Al-Qur’an
sehingga menurun ke anaknya menjadi hafal luar biasa
bisa ditarik kesimpulan kalau kita sungguh2 menghafalkan Al-Qur’an dan kita tidak hafal2 karena susah bisa jadi nanti anak kitalah kelak yang hafal

Aku melihat dengan mata kepala sendiri betapa seorang ulama yang sepuh usia sekitar 90 tahun tapi tidak pikun, hafalannya masih kuat, ingatannya pun kuat, masih segar kadang2 bawa tasbih sambil dzikir jalan di depan pondok dan menyapaku yang saat itu sedang duduk di tangga depan blok C

Konon katanya menurut beliau santri2nya tidak harus jadi kyai yang penting jadi orang benar, dan waktu aku sowan terakhir minta doa,  beliau dawuh(mengatakan) bahwa beliau selalu mendoakan para santri dan alumninya agar ilmunya bermanfaat

Kini Mbah Mun sudah menghadap kepada Allah

Pemakaman Mbah Mun
Pemakaman Mbah Mun

Mbah Mun pulang ke rahmatullah tahun 2004 akhir dan dimakamkan di Dero duwur dekat dengan makam ayahnya, KH. Asy’ari
para santri dan masyarakat merasa kehilangan beliau
sosok ulama sepuh yang kharismatik ulama teladan yang mengayomi umat telah berpulang ke rahmatullah

Sungguh benar sabda Nabi yang menjelaskan salah satu cara ilmu agama dicabut dari muka bumi adalah dengan wafatnya para alim ulama

Meski sudah lama berpulang aku masih inget benar wajah beliau…

Mbah Mun….semoga kelak di akhirat aku dikumpulkan bersama panjenengan

Alfatihah……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s