Kenapa Kita Perlu Mempelajari Sistem Analis dan Desain

Mempelajari Sistem Analis dan Desain sama halnya mempelajari cara menggambar rumah sebelum membangun rumah.

Menurut survey yang diadakan  oleh Standish Group 42 % project pembuatan sistem gagal dan yang diadakan oleh Standish Group 53% gagal.

Tidak sedikit perusahaan besar yang gagal dalam membuat software atau menerapkan software, karena sulitnya membuat software.

Kenapa membuat software sulit?

  1. Membuat software mempunyai kompleksitas yang tinggi, mempunyai parameter dan fungsi yang sangat beragam, berbeda dengan hardware.
  2. Visibilitas produk tidak terlihat cacatnya, berbeda dengan hardware yang terlihat oleh mata cacatnya.
  3. Sumber daya manusia tidak berhubungan dengan kualitas dan kecepatan.

Agar project sistem IT berhasil maka wajib mempelajari sistem analis dan desain.

 

Timbul pertanyaan, bagaimanakah sistem yang berkualitas itu?

Software yang berkualitas adalah yang sesuai dengan kebutuhan dan yang menghasilkan benefit atau keuntungan.

Benefit di sini bisa berupa uang atau efisiensi untuk tidak mengeluarkan uang.

Untuk membuat software yang baik maka ada pembagian tugas2 untuk handle project, yakni:

  1. Project Manager, ialah orang yang bertanggung jawab dengan keberhasilan project, baik mengenai waktu maupun budget uang.
  2. System Analyst, yakni orang yang membuat perencanaan dan analisa sistem. Dia pula yang mendesain sistem.
  3. Programmer, yakni orang yang membahasakan dari sistem analis ke bahasa program. Dia lah yang mengetik program beribu2 baris bahkan ratusan ribu baris.
  4. Tester, yakni orang yang mengetest program. Apakah programnya benar ataukan ada yang perlu diperbaiki.

Sebetulnya ada satu lagi yakni, Bisnis Analis , yaitu orang yang paham mengenai alur bisnis proses tentang sistem yang dibangun.

Bisnis analis bisa dari developer atau dari pihak perusahaan yang ingin dibuatkan sistem, karena mereka lah yang paling mengerti alur bisnis prosesnya.

Berbicara soal Analisa, maka kita akan berbicara SDLC, yakni Systems Development Life Cycle atau Siklus Hidup Pengembangan Sistem.

Menurut Alan Denis di dalam bukunya, System Analyst and Design,  SDLC meliputi :

  1. Planning,  Tahap Perencanaan, yakni membuat System Request, mengumpulkan bahan2, membuat bisnis value, membuat kebutuhan bisnis, dan hasilnya adalah System Proposal. Termasuk membuat analisa kelayakan, apakah sistem ini layak dibuat atau tidak. Jika kita menjadi konsultan yang menawarkan jasa pembuatan software ke klien maka tahap ini wajib dikuasai.
  2. Analysis, Tahap analisa, meliputi membuat UML Use Case, UML Activity Diagram, hasilnya adalah System Specification
  3. Design, Tahap Desain, meliputi membuat UML class Diagram, UML Deployment Diagram, tampilan UI, dan menghasilkan System Specification
  4. Implementation, Tahap implementasi, yakni proses pembuatan program, Testing, Instalasi dan Maintenance. Implementation menghasilkan Sistem baru.

Sistem Baru ada kalanya, benar2 baru, ada kalanya juga menggantikan sistem yang lama, ada kalanya juga memperbaiki fitur2 sistem yang lama dan melakukan perubahan.

Pendekatan Metode SDLC

Pendekatan Metode SDLC, ada beberapa macam, yakni :

  1. Waterfall, semua harus disiapkan dengan matang di awal, butuh waktu lama
  2. Prototype, Desain UI terlebih dahulu dibuat untuk dipresentasikan kepada klien
  3. Agile, lebih mengutamakan Komunikasi daripada dokumentasi. Diantara metode Agile yang populer salah satunya Scrum yang sedang populer belakangan ini di Indonesia. Dalam Scrum mengenal stand up meeting setiap pagi, Sprint untuk 2 minggu sampai 1 bulan untuk menyelesaikan pekerjaan dan Sprint Review, untuk review sprint yang telah dilakukan.

Bagaimana kita menentukan metode yang kita lakukan?

Maka kita lihat point-point berikut ini:

  1. Waktu, bila waktu panjang maka pilihlah waterfall, karena waterfall lebih matang dan lebih teliti. namun bila waktu nya pendek maka pilihlah prototype atau Scrum untuk lebih matang hasilnya.
  2. Dokumentasi, bila mementingkan dokumentasi maka pilihlah waterfall, namun bila tidak mementingkan dokumentasi maka pilihlah Agile.

 

Yang perlu kita ingat adalah membuat software bukanlah sekedar programming. 

Membuat software bukanlah perkara mudah sebab perlu memikirkan dari ujung awal sampai ujung pangkal selesainya.

Bahkan menurut perhitungan Use Case Point, bobot programming hanya 30%. Itu artinya 70% adalah dari tahap Planning, Analisa dan Design.

Sehingga perlu kita matangkan tahap planning, analisa dan design.

 

Menghitung Nilai Project

Percayakah bahwa kita bisa menghitung nilai project dengan lebih akurat jika belajar analisa dan desain.

Bagaimana caranya?

Ada tiga cara :

  1. Menggunakan Cara sederhana, yakni hitung waktu dan estimasinya.
  2. Menggunakan Function Point, yakni hitung jumlah function dan dimasukkan rumus.
  3. Menggunakan Use case Point, menggunakan UML Use Case kemudian dimasukkan rumus.

 

 

Jakarta, 18 Desember 2017

Mahrizal

 

3 pemikiran pada “Kenapa Kita Perlu Mempelajari Sistem Analis dan Desain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s