Buat Para Suami : Bantulah Istri Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga

Banyak suami yang merasa bahwa tugasnya hanya bekerja mencari uang dan seluruh pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan istri sehingga dia enggan untuk membantu istri. Saat melihat rumah berantakan dia langsung menyalahkan istri namun dia sendiri hanya santai2 nonton TV tanpa membantu sama sekali.

Padahal kalau kita lihat perilaku Rasulullah shallalhu alaihi wa sallam di dalam rumah, ternyata beliau biasa membantu pekerjaan rumah tangga

Diriwayatkan dari Al-Aswad bin Yazid, ia berkata: “Aku pernah bertanya pada ‘Aisyah: “Apakah yang biasa dilakukan Rasulullah di dalam rumah? ‘Aisyah menjawab: “Beliau biasa membantu keluarga, apabila mendengar seruan Adzan, ia segera keluar (untuk menunaikan Shalat).” (HR. Muslim)

Siti Asiyah Menceritakan bahwa Rasulullah membantu keluarga.

‘Aisyah Radhiallahu anhum, pernah ditanya: “Apakah yang dilakukan Rasulullah di dalam rumah?” ‘Aisyah menjawab: “Beliau adalah seorang manusia biasa, ia menambal pakaian sendiri, memeras susu dan melayani dirinya sendiri.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apa yang diperbuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu di rumah?”, Aisyah menjawab, “Ia melakukan seperti yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.” (H.R. Ibnu Hibban)

Hadits di atas menunjukkan Rasulullah membantu istrinya jika di rumah

Mulai sekarang bantulah istri kita,misal mencuci piring, berapa lama sih mencuci piring ? ada sejam , ngga ada kan

atau menyapu , mengepel, berapa lama sih , ngga lama kan

Bantulah istri kita , kita akan tahu betapa berat dan lelahnya ternyata pekerjaan istri setiap hari

kalau perlu  tiap hari kita ambil bagian misal mencuci piring tiap pagi adalah tugas kita atau menyetrika adalah tugas kita, kita kerjakan kalau malam

Percayalah istri akan senang dan lebih respect ke kita, alangkah bahagianya istri mempunyai suami yang pengertian

Sekali2 kalau kita libur kerja bantulah istri kita, kalau perlu buat istri libur selama sehari, larang dia mengerjakan pekerjaan rumah tangga biar dia merasakan istirahat, kita sebagai suami yang mengerjakan, mencuci piring, menyetrika mengepel dsb

Kita kerja cari uang saja ada libur masa istri ngga ada libur , bener ngga

Kerjakan dengan ikhlas

Kita membantu pekerjaan rumah tangga bukan karena agar istri kita senang dan lebih respect ke kita

bukan pula agar dianggap suami yang baik

Tapi kita membantu pekerjaan rumah tangga adalah kita mengikuti contoh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

Ghibah dan Suka Mencari Kesalahan Orang Lain

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلم يَدْخُل الإيمَانُ قَلْبَهُ ! لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ بَيْتِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya akan tetapi iman belum masuk kedalam hatinya, janganlah kalian menghibahi kaum muslimin, dan janganlah pula mencai-cari aib mereka, sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim maka Allah akan mencari-cari kesalahannya, dan barangsiapa yang Allah mencari-cari kesalahannya maka Allah akan mempermalukannya meskipun ia berada di dalam rumahnya” (HR Abu Dawud)

Ngeri ya ancaman Allah. Mending jangan coba2 deh cari2 kesalahan orang lain. Ngeri Allah kalau sudah tidak suka sama kita dan mempermalukan kita dunia akhirat.

Bagaimana kalau di depan kita ada yang Ghibah

Kalau berani kita ingatkan, sejatinya kita menyelamatkan saudara kita yang sedang ghibah agar tidak dibuka aibnya sama Allah. Mungkin dia khilaf. Dan itu bisa menjadi ladang pahala buat kita :

“Dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Surat Al-‘Ashr:3)

Kalau tidak berani, lebih baik tinggalkanlah mereka yang sedang berghibah, lebih baik menyelamatkan telinga kita agar meminimalkan pertanggung jawaban di akhirat kelak. Dosa kita sudah terlalu banyak.

Dan percayalah  sekali saja kita dengarkan ghibah, setiap kita melihat saudara kita yang dighibahi bawaan kita akan suudzan. Setiap lihat  akan suudzan. Bertambahlah saldo rekening dosa kita. Na’udzubillahi min dzalik

Tidak berani mengingatkan dan meninggalkan karena hanya berdua, Alihkan pembicaraan ke bahasan lain, Cari cara bagaimana agar kita selamat dari dosa ghibah.

Wallahu a’lam

Indahnya Menutupi Aib Saudara Muslim

Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda :

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ.

“Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya.”
(Hr. Al-Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580 dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, serta Muslim no. 2699 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu)

Dalam Fadhail Amal  yang disusun Maulana Muhammad Zakaria Al Kandhalawi :

“Abdullah bin Umar r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Pada hari kiamat Allah akan memanggil seorang yang beriman ke sisi-Nya, lalu Allah menutupkan tirai ke kepalanya, sehingga tidak seorang pun yang dapat melihat wajahnya. kemudian Allah akan mengingatkan semua kemaksiatan dan kedzaliman yang pernah dilakukannya, sehingga setiap dosa-dosa itu diakuinya. maka orang itu pun merasa bahwa dia akan binasa karena dosa-dosanya. Kemudian Allah berfirman, “Di dunia Aku telah menutupi aib-aib mu, dan sekarang pun Aku akan menyembunyikan aib-aibmu dan mengampunimu” .
(Fadhail Amal : 512)

Kedua hadits di atas menunjukkan keutamaan menyembunyikan aib seorang muslim yang sejatinya mereka adalah saudara seiman kita.

Tidak perlu kita ceritakan kepada yang lain. Simpan saja rapat2 agar Allah menyembunyikan aib kita di dunia dan di akhirat.

Di Mahkamah Allah yang begitu dahsyat, wajah kita akan ditutupi saat diinterogasi sama Allah agar kita tidak malu dilihat seluruh manusia dengan banyaknya aib kita.

Hukum Bersalaman Dengan Wanita Yang Bukan Mahram

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ
“Kepala salah seorang ditusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani)

Hadits itu juga diriwayatkan secara mursal. dari hadits Abdullah bin Abi Zakaria Al-Khaza’i. Dia menuturkan: “Rasulullah r bersabda:

َلاَنْيَقْرَعَ الرَّجُلُ قَرْعًا يُخْلِصُ اِلٰى عَظْمِرَ أْسِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ اَنْ تَضَعَ امْرَاَةٌ يَدَهَا عَلٰى رَأْسِهِ لاَتَحِلُّ لَهُ، وَِلاَنْ يَبْرُصَ الرَّجُلُ بَرَصًا حَتّٰى يُخْلِصَ الْبَرَصُ اِلٰى عَظْمِ سَاعِدِهِ لاَتَحِلُّ لَهُ

“Sungguh, jika seseorang dipukul sampai menembus tulang kepalanya adalah lebih baik daripada kepalanya disentuh oleh tangan seorang wanita yang tidak halal baginya. Dan sungguh, seandainya seseorang menderita lepra yang parah hingga menembus tulang lengannya adalah juga lebih baik baginya, daripada ia membiarkan seorang wanita meletakkan langannya ke alas lengannya, padahal wanita itu tidak halal baginya. ”

Kedua hadits di atas menunjukkan ancaman bagi kita, agar jangan menyentuh wanita yang bukan mahram.
Bersalaman termasuk di dalam kategori menyentuh, maka haram hukumnya.
Rasulullah saw sendiri tidak berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram

إِنِّيْ لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ

“Sesungguhnya aku tidak pernah berjabat tangan dengan wanita.” (HR. Malik 1775, Ahmad 6/357, Ibnu Majah 2874, An-Nasa’i 7/149, dan lainnya)

Bagaimana kalau lebaran
Ngga enak kalau tidak salaman ?
Bagaimana kalau ganti ditanya : Pilih ngga enak sama orang atau ngga enak sama Allah dan Rasulullah.
Kenapa kita perlu memikirkan persepsi orang lain
Biarkan orang lain menganggap kita apa yang penting Allah cinta
kalau Allah cinta maka kan timbul berkah
daripada mengikuti persepsi orang tapi Allah tidak ridho
Ada berapa tangan wanita yang bukan mahram yang kita salami saat lebaran,  kita akan panen dosa kita jika kita melakukan salaman yang bukan mahram
Solusinya
Cukup menelungkupkan kedua tangan di depan dada, kita bukan sombong tapi kita mengikuti perintah Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam
Bagi kita laki-laki, akan lebih baik jika kita langsung  menelungkupkan tangan sebelum mereka menyodorkan tangan, untuk menghindari rasa malu mereka jika sudah tanggung menyodorkan tangan.

Wallahu a’lam

Bekal yang Harus dimiliki oleh Santri Saat Terjun di Masyarakat

Assalamualaikum Wr Wb

Sudah lama tidak update blog

Saat ini saya ingin menulis bekal apa saja sih yang harus dimiliki santri saat terjun di masyarakat, bekal yang harus dimiliki ialah :

1. Bisa Adzan

Santri harus bisa adzan, kalau kita tinggal dekat masjid atau mushalla kan lucu kalau sudah masuk waktu shalat tapi tidak ada yang adzan sementara ada kita di dekatnya. Kita harus bisa adza ngga harus bagus2 amat dilagu, tapi ya jangan jelek2 amat. ini serius, kalau kita bisa adzan kita bisa menggantikan muadzin yang biasa adzan kalau sedang berhalangan. kalau suara kita bagus itu nilai plus, orang akan senang mendengarkan adzan kita. kalau begitu suara kita kan menjadi manfaat. Jangan sampai masjid kosong tidak ada yang adzan.

2. Bisa Jadi Imam Shalat

Ini wajib. Kita harus bisa menjadi imam shalat baik di masjid mushalla atau di tempat kerja. Bukan berarti kita langsung maju begitu iqamat dikumandangkan karena tetap kita persilakan yang lain dulu barangkali ada orang alim. Namun maksud di sini kita harus berani maju menjadi imam apabila dipersilakan.

Menjadi Imam harus tahu syarat dan rukunnya, buka kembali kitab Fiqih apabila kita lupa, bacaan harus bagus, Tajwid harus pas, nilai plus kalau kita bisa murattal, karena bacaan yang ada sedikit lagunya akan lebih enak didengar oleh makmum.

Dalam membaca surat atau ayat jangan terlalu panjang kasihan siapa tahu ada makmum yang sedang ada keperluan. yang proporsional panjangnya. kecuali kita shalat tahajjud sendirian boleh kita panjang bahkan bagus apalagi sekalian melancarkan hafalan.

Prinsip menjadi Imam ialah : Jangan terlalu PD maju langsung menjadi imam karena kita perlu persilakan dulu orang yang lebih alim dari kita, namun Jangan kita menolak jadi Imam kalau kita diminta.

Imam ibarat supir bis yang membawa banyak penumpang harus halus bawanya, tidak terlalu pelan dan tidak terlalu ngebut. yang pas. khusyu dan konsentrasi jangan sampai nabrak maksudnya blank atau lupa bilangan rakaat shalat.

Kalau kita menikah toh kita akan menjadi imam buat istri kita, makanya kita sebagai laki-laki terlebih santri wajib hukumnya bisa menjadi imam.

3. Memimpin Tahlil

Tahlilan adalah budaya masyarakat membaca kirim Alfatihah surat2, ayat dan dzikir2 yang diakhiri dengan doa. Bagi masyarakat memimpin tahlilan , sama halnya imam shalat, biasanya orang yang berilmu juga.

kita harus bisa memimpin tahlil juga, walau bagaimanapun kita adalah calon pemimpin di masyarakat, minimal pemimpin di keluarga. kita harus bisa tahlil dan memimpin tahlil. akan kepakai ko, minimal dalam keluarga, kita ajak istri kita, yuk kita baca yasin tahlil buat orang tua kita. kita mimpin istri makmum. kan indah. dalam scope lebih luas kita mimpin di masyarakat.

4. Memimpin Doa

Sudah menjadi kebiasaan yang dipersilakan memimpin doa yang dianggap paling alim atau ahli ibadah. Kalau orang2 tahu kita dari pesantren adalah wajar kalau mereka meminta kita memimpin doa. Doa apa yang perlu dihafal? :

a. Doa Shalat, jelas karena setelah shalat berjamaah kita mimpin doa setelah dzikir berjamaah

b. Doa Tahlil, jelas karena rangkaian dari satu kesatuan Tahlilan

c. Doa Syukuran atau Selametan, kalau keluarga atau tetangga kita mengadakan syukuran atau selamatan dan butuh doa kita biasanya diminta untuk membacakan doa, nah kita harus bisa

d. Doa2 lain, ada banyak doa yang perlu kita hafal yang akan bermanfaat di masyarakat,contoh : Doa Aqiqah, Doa Shalat Jenazah, dsb penting juga lho

5. Mempunyai Akhlak yang Bagus

Sebelum orang bertanya ilmu kepada kita, orang akan melihat akhlak kita terlebih dahulu. kalau akhlak kita bagus kita akan jadi panutan masyarakat, bahkan akan menjadi buah bibir, “dimana sih pesantrennya?” bahkan tidak mustahil ada tetangga yang ingin menitipkan anaknya juga di pesantren tempat kita. karena apa ? karena keindahan akhlak kita.

Jangan remehkan akhlak. ini serius. ini bukan berarti kita punya akhlak karena ingin dilihat orang, ingin dipuji orang, bukan bukan itu, kita berakhlak harus murni karena Allah  dan ini wajib hukumnya, wajib niat yang lurus dan wajib mengamalkan akhlak yang bagus. karena apa? karena kita sudah belajar di pesantren ? kita sudah dapat kan ? di pelajaran akhlak nah kita amalkan pelajaran yang sudah kita dapat dengan benar2. lagian buat apa sih kita tahu ilmu tidak diamalkan. mubadzir ilmu kita. kita tahu ilmu akhlak ya harus kita amalkan itu yang namanya ilmu yang bermanfaat.

Saya punya cerita, dulu waktu saya kelas 1 SMP di pesantren saat pulang liburan saya berusaha benar2 mengamalkan apa yang diajarkan di pesantren yaitu berakhlakul karimah, shalat berjamaah di mushalla, mencium tangan orang tua, sopan kepada siapapun termasuk mencium tangan orang yang lebih tua. Sering orang2 bertanya “Kamu mondok dimana ?” atau “kamu pesantren di mana?”,  waktu saya naik kelas 2, ada tetangga yang tertarik menitipkan anaknya juga di pesantren saya. kalau begini bukankah secara tidak langsung kita berdakwah dengan akhlak ya, Rasululllah dicintai oleh kaumnya juga karena keindahan akhlak beliau. waktu naik kelas 3 ada lagi tetangga yang ikut menitipkan anaknya di pesantren saya.

Apa rahasianya? akhlak. kita tulus berakhlak mulia karena Allah.

Kalau kata Aa Gym : orang sekarang banyak yang bilang “Susah ya zaman sekarang cari teladan” kata beliau “ya kita saja yang jadi teladan kecil-kecilan”.

Diantara akhlak mulia ialah :

kita tidak boleh berbohong , harus jujur jadi orang dimanapun, yang amanah yang bisa dipercaya orang, ucapan dengan tindakan harus sama, tingkah laku kita harus sopan, santun dalam bertutur kata, selalu menjaga lisan tidak menyakiti hati orang lain, wajah menunjukkan berseri2, ramah dan murah senyum kepada siapapun sehingga orang akan senang dan nyaman bertemu dan bersama kita, sabar tidak pemarah atau pendendam,  mudah meminta maaf dan memaafkan orang lain, suka menolong teman, menghormati orang yang lebih tua. menghargai sesama dan menyayangi yang lebih muda dan semuanya itu harus diniati tulus dan ikhlas Lillahi ta’ala.

Kita punya kewajiban lho membimbing anak istri kita dengan mengajarkan akhlak yang baik, kita perlu mencontohkan terlebih dahulu kepada mereka, sebelum membimbing masyarakat terlebih dahulu kita bimbing keluarga kita, sebab itu yang utama,  kalau keluarga sudah dibimbing, boleh bahkan bagus kita membimbing tetangga dan masyarakat sekitar.

5. Ilmu Fiqih yang Memadai

Ilmu Fiqih memang luas dan dalam, ada kitab banyak, tapi minimal kita tahu dasar2 nya, karena setelah kita terjun di masyarakat tidak jarang mereka bertanya tentang masalah Fiqih, misal shalat dsb. Kita harus bisa menjawab. kalau kita tidak bisa atau tidak tahu, katakan saja jujur tidak tahu jangan jawab sembarangan karena kaitan ibadah apalagi halal haram harus hati2. tapi setelah itu kita harus cari tahu, buka kitab lagi, atau tanya guru kita atau ulama, setelah kita tahu bener2 kita temui dan jawab pertanyaan masyarakat tadi.

6. Fasih Membaca Al-Quran

Al-Quran adalah kalam Allah, kita harus bisa membaca dengan tajwid sesuai panjang pendek dan aturan lainnya. karena tidak jarang orang setelah keluar dari pesantren diminta mengajar AlQuran oleh tetangganya ngajar anak2. ilmu kita bermanfaat bisa mengajarkan kepada yang lain.

Demikian uraian dari saya

Kalau untuk ibadah tidak perlu saya masukkan ke point di atas karena itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai orang mukmin untuk istiqamah dalam ibadah.

kalau kata Ust Arifin Ilham :

kalau orang shalat nya bagus ibadah yang lain akan bagus

kalau ibadahnya bagus hidupnya akan bagus

kalau hidupnya bagus matinya pun akan bagus

Ternyata pangkalnya shalat ya dan ujungnya mati,

Tapi emang bener ko kalau kita shalat jamaah 5 waktu hidup kita terasa berkah, rezeki pun lancar,

maaf melenceng sedikit ya, kalau saya sendiri bila rezeki sedang agak sempit, saya akan intropeksi shalat saya dulu dan perbaiki shalat saya.

Boleh cerita sedikit ngga, Dulu pas zaman saya kerja di pabrik sebagai buruh, tahun 2005 tepatnya, saya punya cita2 kuliah karena merantau hanya lulus STM kerja di pabrik mendorong gerobak, waktu sedang pulang kampung saya buka kitab Ta’limul Muta’allim di bagian akhir, saya baca dan tertuju pada tulisan : “Diantara Perkara yang meluaskan rezeki ialah…Datang ke masjid sebelum adzan…..”.

Mulai saat itu saya datang ke masjid atau mushalla awal waktu , saya duduk di dalam menunggu adzan atau waktu shalat sambil dzikir apa saja. dan Allah memang Maha Melihat, apa yang tercantum di kitab benar. Tidak lama setelah itu saya mendapat kemudahan dari Allah bisa mendaftar kuliah. dimudahkan ketemu dengan tempat kuliah dan diberi rezeki yang tidak diduga2 sehingga bisa mendaftar kuliah…

Jadi memang shalat itu kuncinya , agar rezeki banyak, agar hidup berkah, agar keluarga sakinah, agar mati khusnul khatimah

Jawabannya disimpulkan dalam satu kalimat :

“Shalat Berjamaah di Masjid di Awal Waktu dengan Istiqamah.”

Demikian ya tulisan saya semoga ada manfaatnya.

Terima kasih sudah membaca.

Wassalamualaikum Wr Wb

Jakarta, 23 Januari 2014, 02:52

Mahrizal

Adab Berjalan Menurut Akhlak

1. Mendahulukan kaki yang kanan saat keluar dari rumah, dengan membaca doa keluar rumah. Hendaknya kita berjalan karena ada manfaat untuk diri kita maupun orang lain, jangan kita melangkah karena akan melakukan maksiat atau mencelakakan orang lain. Karena sesungguhnya kaki kita seperti anggota badan yang lain yang merupakan amanah, yang akan menjadi saksi kelak di hari kiamat, seperti dalam ayat :

Pada hari itu akan bersaksi atasnya lisannya , tangannya, dan kakinya terhadap apa yang dilakukannya

Baca lebih lanjut