Arsip Tag: al mabadiul fiqhiyah

Makruh shalat

Makruh dalam shalat :

– Menengok tanpa keperluan
– Melihat ke langit
– Berdiri di atas satu kaki atau satu kakinya lebih maju dari satunya (tidak lurus)
– Meludah
– Mengeraskan dan merendahkan bacaan pada yang bukan tempatnya
– Shalat di kuburan
– Shalat menahan buang air kecil, buang air besar dan buang angin
– Membuka kepala (tidak pakai peci atau sorban)
– Shalat di depan makananan yang membuatnya pingin

* Al Mabadiul Fiqhiyah juz 3
* Fiqih Madzhab Syafi’i

 

kitabfiqih

Iklan

Tuma’ninah : Rukun Shalat Yang Kadang Terabaikan

Thuma’ninah artinya tenang atau diam sejenak dalam shalat. Thuma’ninah termasuk dalam rukun shalat.

Abu Hurairah radliallahu ‘anhu mengatakan:
“Beliau melarangku sujud dengan cepat seperti ayam mematuk, duduk seperti duduknya anjing, dan menoleh-noleh seperti rusa.”
(HR.Ahmad)

Hadits di atas menerangkan bahwa sujud harus dengan tuma’ninah , Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam melarang kita sujud dengan cepat seperti ayam mematuk

Thuma’ninah ada di 4 tempat , yang kesemuanya adalah termasuk rukun shalat:

1. Ruku

2. I’tidal

3.  Sujud

4. Duduk di antara dua sujud

Lamanya tuma’ninah minimal sekira2 membaca Subhanallah

Artinya jika kita Ruku’ maka tenanglah jangan bergerak2 , Apalagi begitu ruku’ langsung I’tidal tanpa tuma’ninah maka tidak sah shalat kita

Begitu pula saat I’tidal maka tenanglah atau tuma’ninah lah, tangan kita jangan bergerak2 atau melambai2 hanya karena turun dari mengangkat tangan takbir Intiqal

Sama halnya Sujud dan Duduk diantara dua sujud, kita harus tuma’ninah atau tenang sesaat , minimal sekira2 lama membaca Subhanallah

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah melihat ada orang yang tdk menyempurnakan rukuk dan sujud ketika shalat, dan terlalu cepat. Setelah selesai, ditegur oleh Hudzaifah, “Sudah berapa lama anda shalat semacam ini?” Orang ini menjawab: “40 tahun.” Hudzaifah mengatakan: “Engkau tidak dihitung shalat selama 40 tahun.” (karena shalatnya batal). Lanjut Hudzaifah berkata:
وَلَوْ مِتَّ وَأَنْتَ تُصَلِّي هَذِهِ الصَّلَاةَ لَمِتَّ عَلَى غَيْرِ فِطْرَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Jika kamu mati dan model shalatmu masih seperti ini, maka engkau mati bukan di atas fitrah (ajaran) Muhammad shallallahu ‘alaihiwa sallam.” (HR. Ahmad, Bukhari, An-Nasai).

Referensi : Al Mabadiul FIqihiyah

Bagaimana Hukumnya Memejamkan Mata Saat Shalat

Hadits pertama :

“Apabila Shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam menundukkan kepalanya dan memandang tanah (tempat Sujud)” (HR. Al-Baihaqi dan AL-Hakim)

Dari hadits di atas bisa kita simpulkan Rasulullah saw tidak memejamkan mata dan memandang ke tanah atau tempat sujud nya
Hadits kedua :
Dan imam Al-Bukhari rahimahullah juga telah meriwayatkan dari haditsnya Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ الْآنَ مُنْذُ صَلَّيْتُ لَكُمْ الصَّلَاةَ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ مُمَثَّلَتَيْنِ فِي قِبْلَةِ هَذَا الْجِدَار
“Sungguh aku telah melihat sekarang – sejak aku meng-imami kalian- surga dan neraka digambarkan di kiblat tembok ini..”
(Shahih al-Bukhari 1/150 no.749)
Al-Hafizh ibnu Hajar rahimahullah mengatakan :

وَقَالَ ابْنُ بَطَّالٍ : فِيهِ حُجَّةٌ لِمَالِكٍ فِي أَنَّ نَظَرَ الْمُصَلِّي يَكُونُ إِلَى جِهَةِ الْقِبْلَةِ ، وَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْكُوفِيُّونَ : يُسْتَحَبُّ لَهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَوْضِعِ سُجُودِهِ ؛ لِأَنَّهُ أَقْرَبُ لِلْخُشُوعِ 
 
“Ibnu Bathal rahimahullah mengatakan : “Di dalam hadits (di atas) terdapat hujjah bagi imam Malik rahimahullah bahwa pandangan orang yang sedang shalat dihadapkan ke arah kiblat.”
Dan Imam Asy-Syafi’I rahimahullah serta ulama2 Kufah mengatakan bahwa disukai bagi orang yang shalat untuk melihat ke arah tempat sujudnya karena itu lebih dekat kepada ke-khusyu’an.”
(Fath Al-Bari 2/271)
Al-Hafizh ibnu Rajab rahimahullah mengatakan :
وأما تغميض البصر فِي الصلاة ، فاختلفوا فِيهِ :
فكرهه الأكثرون ، منهم : أبو حنيفة والثوري والليث وأحمد .
قَالَ مُجَاهِد : هُوَ من فعل اليهود .
 
“Adapun memejamkan mata dalam shalat, maka terdapat ikhtilaf dalam hal ini.
Kebanyakan ulama memakruhkannya, diantara mereka ialah : Abu Hanifah rahimahullah, Ats-Tsauri rahimahullah, Al-Laits rahimahullah dan imam Ahmad rahimahullah.
Mujahid rahimahullah mengatakan : “Memejamkan mata itu termasuk perbuatan orang2 Yahudi.”
(Fathul Bari 6/443)
Dengan demikian dalam madzhab Syafi’i makruh hukumnya memejamkan mata saat shalat
Namun bila di depannya ada perkara yang mengganggu misal gambar , lukisan atau yang dapat mengganggu kekhusyu’an maka boleh kita memejamkan mata
Wallahu a’lam

Cara Membersihkan Lantai yang Terkena Najis Pipis Bayi atau Balita Secara Syar’i

Kalau kita punya Bayi atau Balita sudah hal biasa kalau anak kita sedang pipis di lantai.

Bagaimana sih cara membersihkan lantai yang terkena pipis secara syar’i ?

1. Apabila balita kita pipis di lantai, keringkan pipis tersebut dengan cara di lap dengan lap yang kering, dengan demikian air pipis akan terserap di lap tersebut

2. Guyur bekas pipis tersebut dengan air suci, sebab hilangnya najis dengan mengguyur atau membilasnya

2. Keringkan guyuran tersebut dengan lap kering.

yang perlu diperhatikan adalah saat balita pipis biasanya pipis nya nyiprat atau ke area sekitar nya , meski hanya titik titik air pipis namun tetep itu najis yang harus dibersihkan atau disucikan.

Cara tersebut bisa dipakai juga untuk membersihkan najis lain misal (maaf) eek (kotoran buang air besar) dari balita. caranya sama, buang kotoran eek nya, dengan cara pakai kertas atau lap . usahakan kotoran nya keangkat semua sehingga lantai menjadi kering

kemudian dilanjutkan langkah kedua yakni  guyur atau bilas bekasnya, dan terakhir keringkan dengan lap agar kering.

Lanjutkan membaca Cara Membersihkan Lantai yang Terkena Najis Pipis Bayi atau Balita Secara Syar’i

Sunnah Sebelum Shalat

Sunnah sebelum shalat :

  1. Adzan untuk shalat lima waktu kecuali di waktu shubuh karena sunnah adan dua kali sebelum shubuh yang pertama di pertengahan malam dan yang kedua setelah terbit fajar
  2. Iqamat
  3. Siwak , siwak sunnah di tiap2 waktu shalat kecuali sesudah zawal untk orang yang berpuasa
  4. Terdapat sutroh untuk mencegah orang lewat di depannya

Sumber : Al Mabadil Fiqhiyah Juz 3 hal 23

Pengertian Sujud Sahwi dan Sebab2 nya

Sujud Sahwi adalah sujud dua kali setelah tahiyyat akhir dan sebelum salam

Sebab2 sujud sahwi :

  1. Meninggalkan sebagian dari sunnah ab’adl shalat *
  2. Melakukan sesuatu karena lupa ,yang sesuatu tsb membatalkan shalat apabila dilakukan dengan sengaja seperti berbicara sedikit karena lupa
  3. Ragu-ragu di dalam rakaat shalat, Maka apabila ragu2 di jumlah rakaat shalat tentukan rakaat yang yaqin ,  sempurnakan shalat kemudian melakukan sujud sahwi
  4. Memindah Rukun Qauli ** yang tidak membatalkan di selain tempat nya seperti mengulang membaca Al-fatihah di dalam ruku’, sujud, atau saat duduk

Keterangan :

* Sunnah Ab’adl ada 7 :

    1. Duduk tahiyyat awal
    2. Membaca bacaan Tahiyyat awal
    3. Membaca shalawat atas Nabi pada tahiyyat awal
    4. Membaca Shalawat atas keluarga Nabi pada tahiyyat akhir
    5. Membaca doa qunut pada shalat shubuh dan shalat witir pada setengah akhir bulan ramadhan
    6. Berdiri untuk membaca doa qunut
    7. Membaca shalawat atas Nabi , keluarga Nabi dan Shahabat Nabi di dalam doa qunut

** Rukun Qauli adalah rukun pengucapan ataurukun  yang diucapkan oleh lisan, ada 5 yakni:

1. Takbiratul Ihram,

2.Membaca Al fatihah ,

3. Membaca Tahiyyat Akhir pada duduk terakhir

4. Membaca shalawat pada duduk terakhir

5. Membaca salam yang pertama

Untuk Rukun qauli , ketika mengucapkan atau membaca suaranya harus bisa didengar oleh telinga sendiri apabila hanya di hati atau hanya berbisik pelan yang telinga sendiri tidak mendengarnya maka tidak sah rukun qauli nya

 

Sumber : Al Mabadil Fiqhiyah Juz 3 hal 24