Cara Mencuci Baju yang Syar’i

Mencuci baju adalah hal yang biasa dilakukan orang sehari2 terutama ibu rumah tangga, namun tidak menutup kemungkinan pula dilakukan oleh seorang ayah yang sedang ingin membantu istri,seorang bujangan yang tinggal di kos atau kontrakan, atau seorang suami yang sedang jauh dengan istri  tentu mau tak mau bajunya dicuci sendiri kecuali bila dicucikan oleh jasa laundry.

Mencuci baju adalah membersihkan baju kotor dengan sabun dan air sehingga menjadi bersih. Tapi itu definisi umum.

Bagi seorang muslim mencuci tidak hanya membersihkan yang kotor namun juga mensucikan dari najis yang ada pada baju tersebut. percuma bersih percuma wangi kalau baju nya belum suci dari najis, tidak sah untuk dipakai shalat sebab syarat sah shalat diantara nya adalah suci badan, pakaian dan tempat dari najis.

Baik, bagaimana sih cara mencuci yang syar’i, sebelumnya aku katakan, versi ini menurut versi ku sendiri, sebenarnya prinsipnya sederhana, yakni selain membersihkan juga mensucikan , najis dihilangkan terlebih dahulu. sebagaimana sudah disinggung di atas.

Berikut rinciannya :

1. Pisahkan baju2 yang terkena najis

Baju-baju yang terkena najis, misal kena pipis , kotoran manusia atau kotoran hewan, muntah, nanah, darah pisahkan dengan yang lain, jangan dicampur dengan baju yang kotor biasa, kotor biasa misalkan kena debu atau kena keringat, bagaimana dengan kena tanah, tanah pada dasarnya suci , karena disamakan dengan bumi  tentu selama tanah tersebut tidak terkena najis

2. Hilangkan najis yang ada pada baju yang terkena najis

Bagaimana menghilangkannya, sederhana saja, guyur pakai air, lebih enak lagi kalau ada kran , dengan begitu air akan mendorong najis2 turun ke bawah, semacam pipis, darah, muntah akan jatuh atau merembes turun ke bawah setelah kena guyuran air, guyur lah yang rata agar najis nya hilang

3. Bersihkan pakai sabun

Setelah najisnya hilang, bolehlah kita gabungkan dengan baju kotor biasa yang cuma kena keringat , bisa direndam pakai deterjen, bisa pula langsung hajar disikat pakai sabun, atau bisa pula dicuci pakai mesin cuci.

Bagi pemakai mesin cuci harap hati2 sebelum najisnya hilang usahakan jangan masukkan ke mesin cuci karena bisa nyebar ke yang lain,  menurut Fiqih air sedikit kurang dari dua kullah(2 kullah = kurang lebih200 liter) yang kena najis akan jadi air najis, baju yang dimasukkan ke air tersebut pun jadi najis semua

Baik pakai tangan, atau mesin cuci tujuan dibersihkan pakai sabun sebagaimana yang kita mafhum untuk membersihkan kotor2 biasa semacam debu, tanah, keringat, kotor es krim, tinta, dsb.

3. Bilasan terakhir dengan diguyur air lagi

Ini yang kadang dilewatkan orang karena mungkin belum tahu, yakni guyuran terakhir pakai air agar najis2 bisa turun untuk yang terakhir

kita tidak tahu waktu kita menyikat atau mengucek kena najis yang kita tidak ketahui , misal dari lantainya atau yang lain

maka dari itu bilasan terakhir adalah mengguyur kembali baju2 kita pakai air agar najis nya jatuh ke bawah. meski pun kita sudah membilas pakai bak atau ember tapi belum afdal kalau belum diguyur pakai air, karena siapa tahu di ember atau di bak tercampur dengan najis yang kita tidak ketahui.

Perhatikan pula waktu mengguyur air agar air dari atas turun ke bawah lewat serat kain , kain seolah dialiri oleh air dari atas ke bawah dengan begitu  najis yang ada di serat2 kain tersebut terdorong jatuh ke bawah.

Lho apa bukan berlebihan pakai air? ko tidak cukup pakai bak saja , harus diguyur lagi

Sebab Kita ingin memastikan bahwa baju2 kita yang akan digunakan untuk shalat benar2 suci, sesuatu dikatakan berlebihan jika melebihi kebutuhan, sedangkan kita masih butuh  air untuk mensucikan , membilas bukan sekedar membersihkan dari sabun yang masih melekat pada kain, namun juga juga mensucikan dari najis agar najis hilang sehingga sah untuk dipakai shalat, tentu kita ingin shalat bajunya suci bukan, nah mulai lah dari hal kecil mencuci baju, diperhatikan kesuciannya. dalam agama ini dinamakan ikhtiyath atau sifat hati-hati.

Namun seyogianya memang dalam mengguyur air jangan berlebihan airnya sekedar bisa mengguyur saja , dan kalau sudah selesai langsung dimatikan dengan begitu kita terhindar dari sifat berlebihan.

Dengan antisipasi menghilangkan najis di awal dan mengguyur air untuk menghilangkan najis di bilasan terakhir maka insya Allah baju kita sudah suci dan sah untuk shalat.

Wallahu A’lam

Jakarta, 19 Oktober 2012

51 thoughts on “Cara Mencuci Baju yang Syar’i

  1. gan, mohon pencerahan. kalau cara mencucinya seperti ini bagaimana:
    pakaian dicampur antara yang terkena najis & tidak. kemudian cuci pakai sabun di mesin cuci. siram air bersih & bilas di mesin cuci. siram air bersih & bilas lagi. setelah itu, baru gunakan pewangi pakaian:)

    jadi terkesan buang2 air ya…..

    Disukai oleh 1 orang

    1. Boleh gan seperti itu

      Tapi afdal nya sebelum dicampur baju2 yang terkena najis dibersihkan dulu najisnya , misal baju kena pipis diguyur dulu pakai air biar najis pipis nya hilang .
      Setelah itu baru dicampur dengan yang tidak kena najis di mesin cuci.

      Suka

  2. gan, kalau kita BARU TAHU ilmu yang seperti ini sekarang gmana? ana nyuci campur aja semuanya (najis=kotor) dalam mesin cuci dan langsung jemur.. dan metode ini ana lakukan pada kesemua pakaian yang telah ana pakai (selemari lah).. jadi gmana solusinya?

    Suka

    1. Kalau kemarin belum tahu maka tidak mengapa karena namanya belum tahu insya Allah dima’fu dengan catatan kita masih mencari ilmu

      Dan karena sekarang sudah tahu maka kebiasaan yang lalu perlu diubah
      pisahkan baju2 yang terkena najis..hilangkan najisnya terlebih dahulu dengan diguyur air
      kalau kotor biasa belum tentu najis…kotor karena kecipratan tanah , kena saus sambal, tumpah teh kopi itu hanya kotor biasa bukan najis
      yang termasuk najis : darah, nanah, kotoran hewan, pipis , kotoran manusia, muntah, khamr(minuman keras). kalau baju kita kena najis tersebut maka sebelum dicuci dengan sabun hendaknya dibersihkan dulu najisnya sampai hilang.
      setelah itu baru boleh dicampur dengan baju kotor biasa untuk dicuci di mesin cuci
      jangan sampai ada najis yang menyebar ke baju2 yang lain di mesin cuci
      kita perlu ikhtiyath atau hati2 dalam perkara hukum agama
      karena salah satu syarat sah shalat adalah suci pakaian dari najis

      setelah kita membersihkan najisnya terlebih dahulu
      kemudian menggabungkan dengan baju kotor biasa
      Dicuci dengan mesin cuci
      maka insya Allah baju kita sudah bersih dan suci sehingga sah untuk dipakai shalat

      Wallahu a’lam

      Suka

    1. Waalaikumsalam….
      Kalau hanya cipratan mandi tidak apa2
      hanya saja dipastikan bahwa lantai yang kita injak tidak kena cipratan najis
      misal kita pipis kan biasanya ada cipratan2 yang kemana2 nah itu kita guyur sampai mengalir dan hilang hingga kita yakin tidak ada najis
      kalau sudah begitu maka tidak mengapa kita injak bekas cipratan mandi
      sebaiknya masuk ke kamar mandi atau toilet dengan sandal karena sunnah memakai alas kaki
      Untuk lebih hati2 hendak keluar kamar mandi lebih baik kita siram kaki kita agar najis yang barangkali masih menempel di kaki hilang

      Wallahu a’lam

      Suka

    1. Mba Fitri,
      Untuk mensiasatinya saat diguyur baju direntangkan jangan dalam keadaan lipat-lipat karena kalau dalam terlipat2 kuatir bagian dalam belum tentu teraliri
      kenapa diguyur adalah barangkali ada bagian baju terkena najis dan biar najisnya turun mengalir makanya diguyur pakai air

      Suka

  3. bos, sy mau tanya ni bos kalau kita mengumpulkan 100 ember ukuran sedang berisi air lalu semua ember tersebut tertetesi satu tetes najis, otomatis ember itu jadi najis dan apabila 100 ember itu dikumpulkan didalam bak maka air itu menjadi dua qulah atau malah jadi najis semua? trimakasih

    Suka

    1. tergantung apakah berubah rasa, warna atau baunya, kalau saat menjadi dua qullah berubah rasa, warna, bau maka najis, jika tidak berubah maka tidak najis
      karena dasarnya, apabila ada air dua qullah kejatuhan najis dan tidak berubah baik rasa, warna dan bau maka tetap suci

      Suka

    1. Pakaian tersebut bisa menjadi najis
      akan lebih hati2 kalau kita mengganti pakaian tsb kalau mau shalat
      khawatir ada najis yang nyiprat ke pakaian yang kita kenakan

      Wallahu a’lam

      Suka

    1. Waalaikumsalam

      Mengenai baju dicuci di laundry, tergantung cara mencucinya

      Kalau kita tidak tahu cara mencucinya :

      Kalau kita mau hati2 , maka kita cuci sendiri agar lebih yakin
      kalau kita mau khusnudzan, maka kita pakai dengan berasumsi baju sudah dicuci dengan cara syar’i di laundry

      Suka

  4. Pak klo langkahnya sprt ini boleh tidak? Najis dipakaian dibersihkan, lalu diguyur, lalu masuk mesin cuci, cuci bilas pakai mesin cuci, lalu langsung jemur tanpa diguyur lagi karena sdh diguyur di langkah pertama. Mohon masukannya, terima kasih

    Suka

  5. Asslkm, mas rizal saya mau tanya, tp sebelumnya mohon ijin crita dulu. Bbrp hr yg lalu ada karyawan ditempat kerja saya yg notabene non muslim mngusir anjing sampai tangannya dijilat2 oleh anjing tersebut. Lalu ia mencuci tangannya scr biasa dg sabun. Posisi kmr mandi bersebelahan dg t4 wudlu. Sesaat sesudah itu, bbrp tmn2 muslim menggunakan kmr mandi tsb. Lalu,
    1. Bagaimana status kesucian gayung, sabun, & kamar mandi tsb apakh msh mengandung najis mugholladhoh? Pdhl tmn2 muslim sdh tlanjur mnggunakannya & pastinya kr saat ke kamar mandi & di ruang kerja tanpa alas kaki, mk kaki yg basah sesudah memakai kmr mandi tsb sudah menyebar kemana-mana.
    2. Bagaimana status kesucian lantai yg diinjak oleh karyawan non muslim tersebut yg notabene kakinya msh basah (tanpa alas kaki) sesudah cuci tangan? Bagaimana cara mrnghindari lantai tsb (jk msh mengandung najis mugholladhoh) dan sdh terlanjur di pel?
    mohon bimbingan, terima kasih.

    Suka

    1. Waalaikumsalam Mas Suat,
      Jawaban dari pertanyaan Mas Suat :
      1. Gayung yang dipegang menjadi najis mugholadzoh, dan kamar mandi yang terkena cipratannya pun menjadi najis, Bila memegang sabun, sabunnya pun terkena najis
      Adapun cara mensucikannya dibasuh 7 kali dan salah satunya dicampur dengan tanah dan debu
      Adapun orang muslim yang terlanjur tidak tahu dan menginjak, maka orang yang tidak tahu terkena rukhshah dan menjadi kewajiban yang tahu untuk memberi tahu
      2. Status kesucian lantai yang diinjak pun menjadi najis , adapun cara menghindarinya dengan selalu menggunakan alas kaki, bila kaki kita kering maka tidak mengapa, tapi jika kaki kita basah maka akan kena najis juga

      Demikian jawaban dari saya Mas Suat

      Wallahu a’lam

      Suka

  6. saya ingin mahu btanya….ada kh suci pakaiyan saya ini di cuci dgn cara begini…pakaiyan bnajis dan tidak di campur skali…kerna org di rumah ramai tak bisa nk tahu yg mana bnajis dan tidak. jd saya cuci campur skali lh jika mcuci…di cuci dgn air sabun…kemudian di perah dlm mesin…kemudian di bilas dgn air paip 1 kali….di dln baldi…kemudian di perah lalu di jemor…ada bisa suci mohon pencerahan atau jika tidak suci perlu kh saya mcuci satu almari pakaiyan utk menpasti kn kesucian pakaiyan itu pak????….

    Suka

    1. maaf air paip itu apa ya , air kran kah ? kalau yang dimaksud diguyur air kran maka harus dipastikan semua najis sudah hilang turun terkena guyuran air caranya baju satu satu diguyur dengan air kran karena pakaian dicampur jadi satu maka jika satu najis jadi najis semua , oleh karenanya pakaian2 dialiri air agar najis2 yang ada turun teraliri air
      kalau sudah begitu maka sah sudah suci

      Suka

  7. bang saya didi mau nanya, bagaimana hukumnya kalau kita tidak tahu cara nyuci pakain yang terkena najis, berarti pakain yang saya cuci selama ini semua najis donkk, soalnya pas saya cuci ada pakain yang najis dalamnya ,padahal aku baru tahu mas, cara nyuci yang benar.

    dan juga mas hukumnya kalau kita udah guyur pakain dengan hati hati tapi tampa kita sadar masih ada kotorannya dikit, bagaimana hukumnya tu.

    Suka

    1. Didi, iya selama ini pakaian yang didi pakai najis , cuma karena belum tahu maka dima’fu (dimaafkan) asal kita senantiasa mencari ilmu

      dan bagaimana jika sudah diguyur masih ada kotoran?
      kalau kotoran tidak najis misal debu, tanah, minyak maka tidak mengapa
      bila najis maka tidak sah shalat kita
      bila sudah diguyur dengan hati2 dan tanpa kita sadar ada najis ? maka termasuk kategori dima’fu sebab kita tidak tahu, namun begitu kita tahu kita perlu mengulang shalat
      contoh : kita baru sadar bahwa di baju kita ada najis setelah salam shalat maghrib maka kita wajib ganti baju yang suci dan shalat maghrib kembali karena shalat yang pertama ada najis tidak sah
      Bagaimana bila waktu sudah habis, maka diniati qadha, ketahuan najis bila pas adzan Isya, maka wajib mengulang shalat maghrib dengan niat qadha

      Demikian Didi jawaban saya

      Wallahu a’lam

      Suka

  8. bang satu lagi pernyataan, waktu melakukan hubungan suami istri di kamar, diatas kasur bang , alas kasur kita terkena sperma kita tu, bagaimana hukumnya bang, dan bagaimana cara nyucinya bang kan alas kasur tu besar kali bng

    Suka

    1. Didi, untuk sperma hukumnya suci , tidak najis

      أَنَّ رَجُلاً نَزَلَ بِعَائِشَةَ فَأَصْبَحَ يَغْسِلُ ثَوْبَهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ إِنَّمَا كَانَ يُجْزِئُكَ إِنْ رَأَيْتَهُ أَنْ تَغْسِلَ مَكَانَهُ فَإِنْ لَمْ تَرَ نَضَحْتَ حَوْلَهُ وَلَقَدْ رَأَيْتُنِى أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَرْكًا فَيُصَلِّى فِيهِ.

      “Ada seorang pria menemui ‘Aisyah dan di pagi hari ia telah mencuci pakaiannya (yang terkena mani). Kemudian ‘Aisyah mengatakan, “Cukup bagimu jika engkau melihat ada mani, engkau cuci bagian yang terkena mani. Jika engkau tidak melihatnya, maka percikilah daerah di sekitar bagian tersebut. Sungguh aku sendiri pernah mengerik mani dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shalat dengan pakaian tersebut.”

      Hadits ini menunjukkan sperma tidak najis.

      Begitu ya di
      Syukron

      Suka

  9. Assalamu’alaikum..
    sya mau tanya.. sya punya usaha laundry kecil2an dan sya cuma punya 1 mesin cuci.. jadi mesinnya itu sya pakai buat nyuci baju sya sndiri dan baju orang lain.. sbnarnya saya agak g nyaman kalo harus bergantian mencuci baju dg punya orang lain, takutnya ada baju orang yg kena najis & air liur anjing yg nanti jg ikut nempel d baju sya..
    pertanyaan saya, kalo misal baju yg saya cuci ada yg terkena liur anjing apakah mesin cuci, ember, hanger, dan setrika saya jga ikut najis? kalo memang terkena najis bgaimana cara mensucikannya?
    terimakasih sebelumnya
    Wassalam

    Suka

    1. Waalaikumsalam…
      Kalau ada yang terkena liur anjing maka mesin cucinya juga ikut najis, ember juga, karena kaidah , setiap barang basah yang terkena najis akan ikut najis, namun tidak kalau kering , contoh lantai yang terkena najis kencing namun kering, maka bila kita menginjak dengan kaki basah, kaki kita akan najis , namun bila kaki kita kering, maka tidak kaki kita tadi jadi najis
      termasuk contoh air liur anjing di atas

      Bagaimana cara mensucikannya, najis mugholadzoh disucikan dengan dibasuh air tujuh kali salah satunya dicampur dengan tanah

      Memang benar agak riskan kalau kita mencuci baju sendiri yang kita tahu najisnya, dengan mencampurkan baju orang lain yang kita tidak tahu apakah najis atau tidak

      saran saya, jika kita tahu orang tsb kita tahu tidak punya anjing maka sebaiknya khusnudzan tidak terkena najis mugholadzoh, kita menghukumi baju tsb najis mugholadzoh kalau kita tahu benar baju tsb terkena liur anjing, atau orang tersebut mempunyai anjing yang mana 90% pasti berinteraksi dengan anjing kesayangannya, maka kita harus hati2.
      sedangkan kalau orang baik2 saja tidak punya anjing dan tidak berinteraksi dengan anjing , maka tidak perlu ada pikiran terkena najis mugholadzoh

      saran saya lagi, kalau ada rezeki, belikan satu mesin cuci lagi untuk memisahkan buat pribadi dan buat usaha

      Demikian jawaban saya ya mba

      Suka

      1. brarti setrika sya tidak terkena najis ya pak? krna sya menyetrika dlam keadaan pakaian kering..
        lalu bagaimana hukumnya pakaian sya yg sya cuci setelah mesinnya digunakan mencuci pakaian yg terkena najis mugholadzoh? apakah pakaian sya terkena najis jg dan harus dibasuh sebanyak 7 kali?
        kebetulan ada pelanggan sya yg memelihara anjing, sya mau menolak jg ga enak..

        Suka

      2. setrika tidak terkena najis mba karena pakaiannya kereing
        pakaian mba juga najis karena mesin cucinya juga najis
        cara membersihkannya : cuci mesin cucinya tujuh kali salah satunya dicampur dengan tanah
        begitu pula dengan pakaian mba yang dicuci menggunakan mesin cuci tersebut

        solusinya sebaiknya :
        pakaian pelanggan yang memelihara anjing dibasuh dulu 7 kali salah satu menggunakan tanah, sebagai bentuk kehati-hatian , setelah suci dari najis mughaldzah bisa dicampur dengan pakaian yang lain

        saya doakan semoga mba bisa punya dua mesin cuci , satu untuk usaha dan satu untuk pribadi amin….

        Suka

  10. assalamualaikum wr wb
    pa ustad mau tanya apabila kita mencuci pakaian yang najis, tpi langsung direndam semuanya menggunakan detergent, setelah itu saya mencucinya di pisah satu per satu hanya di kucek sedkiti tapi mebggunakan air keran yang terus mengalir , setelah itu saya memeras beberapa kali semua pakaian saya satu per satu dengan langsung terkena air yang mengalir dari kran minimal semuanya 3 kali perasan apa itu sudah bisa menghilangkan najis? mohon di jawab pk ustadz, karena setia saya mencuci selalu seperti ini.
    wassalamualaikum wr wb

    Suka

    1. Waalaikumsalam wr wb
      Mas Gilang yang dijelaskan mas gilang di atas sudah bisa menghilangkan najis
      karena ada guyuran air dari kran itu yang penting
      dan saat mengkucek pastikan najis yang masih melekat hilang agar saat dialiri air sudah tidak ada najis yang menempel , hanya najis2 air yang akan turun saat dialiri air kran

      Demikian jawabannya ya mas gilang

      Waalaikumsalam wr wb

      Suka

  11. assalamualaikum pk ustad mau nanya lagi, seumpamanya kita shalat berjamaah, lalu bacaan kita salah sedikit contoh pas baccan shalawat di tasyahaud akgir yang fil’alamiina jadi filalamiina itu hukumnya bagaimana pk ustad karena tidak sengaja, apakah bacaan imam bisa menutupi bacaan makmumnya yang salah terimakasih, maaf bertanya diluar topic pk ustadz

    Suka

    1. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh
      Mas Mohamad ramadhan,

      jawabannya tidak apa2

      Uraian :

      Bacaan shalat masih bisa dimaafkan jika tidak terkait rukun qauli
      apa itu rukun qauli
      Rukun qauli ialah rukun shalat yang berupa bacaan dan wajib didengar oleh telinga sendiri

      Yang termasuk rukun Qauli ialah :
      1. Takbiratul Ihram
      2. Al Fatihah
      3. Bacaan Tahiyat Akhir
      4. Shalawat pada Tahiyat Akhir
      5. Salam Pertama

      Rukun Qauli di atas wajib mulut kita bersuara sedikit saat membaca agar telinga kita mendengar. Tidak sah shalat kalau membaca rukun qauli tapi telinga tidak mendengar.

      Bacaan Tahiyat Akhir
      Adapun yang dimaksud bacaan Tahiyat akhir adalah sampai Syahadat
      sehingga shalawat setelahnya sudah masuk rukun sendiri

      Bacaan Shalawat
      Bacaan Shalawat yang menjadi rukun qauli adalah shalawat pertama setelah tahiyat
      Allahumma shalli ‘ala sayyidinia muhammad
      atau kalau mau tidak ada sayyidina
      Allahumma shalli ‘ala muhammad

      Hanya sampai itu rukun qauli
      Adapun lafal selanjutnya Wa ‘ala ali (sayyidina) muhammad adalah shalawat untuk keluarga nabi , sudah tidak termasuk rukun qauli melainkan sunnah ab’ad

      Apa itu sunnah ab’adl
      sunnah yang yang apabila ditinggalkan baik sengaja atau tidak disengaja maka diganti dengan sujud sahwi menurut madzhab Syafi’i

      Adapun lafal setelahnya Allahumma shalli ‘ala (sayyidina) ibrahim sampai fil ‘alamina innaka hamidum majiiid termasuk sunnah,yang apabila tidak dibaca tidak membatalkan dan tidak perlu diganti sujud sahwi

      Kembali ke pertanyaan mas mohammad
      kalau bacaan fil ‘alamiina ada kesalahan asal tidak disengaja maka tidak apa2.

      Demikian jawabannya ya mas

      Syukron

      referensi : Al Mabadiul Fiqhiyah

      Suka

  12. saya mau tanya. kan saya waktu itu belum tau cara mencuci yang najis itu harus di guyur
    nah saya waktu itu nyetrika baju basah pake setrika itu
    bagaimana cara membuat setrika itu suci kembali?
    apakah najisnya di maafkan untuk baju saya yang dulu dulu di setrika? terimakasih

    Suka

    1. Mba Firda Annisa,
      Membuat setrika suci itu kembali tinggal dialiri air permukaan bawahnya
      Mengenai baju yang dulu disetrika maka perlu disucikan lagi karena sekarang sudah tahu hukumnya.

      Suka

    1. air yang keluar dari kereta belum tentu kesuciannya
      bisa jadi suci karena dari air yang suci misal air ac, air aqua
      atau bisa jadi tidak suci karena bercampur dengan sesuatu yang tidak suci

      Suka

  13. assalamualaikum maaf pak mau tanya lagi
    bgaimanakah hukumnya orang yang selalu keputihan,sedangkan ketika ia bepergian tidak mungkin untuk mengganti celananya
    nah bagaimana solusinya

    terimakasih

    Suka

    1. Waalaikumsalam
      Keputihan hukumnya najis maka wajib membersihkannya sebelum wudhu dan shalat
      termasuk pakaian yang terkena keputihan
      Jika memang keluar keputihan terus menerus maka dihukumi darurat artinya dimaafkan namun dengan syarat tetap dibersihkan terlebih dahulu sebelum wudhu dan shalat

      Demikian mba firda annisa

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s